Tantangan Biokilang di Indonesia

Perkembangan teknologi sekarang berhasil mengembangkan teknologi biokilang sebagai pengganti teknologi petrokimia saat ini yang masih menggunakan sumber daya fosil. Teknologi biokilang mengembangkan produk bahan kimia yang bersumber dari gula atau biomassa lainnya melalui proses fermentasi maupun rute kimia. Namun hal yang paling penting dalam proses biokilang adalah komersialisasi dimana produk biokilang harus mampu berkompetisi secara ekonomi dengan produk kilang petrokimia saat ini. Solusinya adalah dengan cara memaksimalkan kemampuan mikroorganisme yang berperan dalam fermentasi biokilang sehingga mampu memaksimalkan produktivitas bahan kimia dan turunannya.

Produk kimia yang dihasilkan melalui teknologi biokilang dibagi menjadi dua : produk kimia dan turunannya melalui rute biologis dan produk kimia dan turunannya yang dihasilkan melalui rute kimiawi. Keduanya sama-sama dikembangkan dari sumber daya berbasis biomassa, gula dan pati. Melalui proses fermentasi dan kimiawi, raw material gula dan pati mampu dikembangkan menjadi produk bahan kimia yang memiliki nilai jual yang tinggi :

a. Produk bahan kimia dan turunannya yang dhasilkan melalui rute biologis

 

b. Produk bahan kimia dan turunannya yang dhasilkan melalui rute kimiawi

Faktor yang perlu diperhatikan dalam komersialisasi produk biokilang hal yang perlu diperhatikan adalah kemampuan mikroorganisme untuk meningkatkan produktivitas produk yang dituju. Peningkatan kemampuan mikroorganisme dilakukan dengan teknologi rekayasa metabolisme. Sebagai contoh adalah produksi asam sukinat dan 3-hidroksi asam propanoat (3-HP). Sebuah rekayasa metabolisme bakteri hewan rumen, M. succiniproducens LPK7 dikembangkan dengan menghapus gen laktat dehidrogenase dan acetyltransferase serta acetat kinase untuk meningkatkan produktivitas terbentuknya asam sukinat dengan menghambat terbentuknya produk samping seperti asam asetat. Bakteri E. coli yang mengalami rekayasa metabolisme dengan cara dihapusnya gen alkohol dehidrogenase dan ditingkatkan ekspresi gen gliserol dehidratase, gliserol dehidratase eraktivase dan aldehid dehidrogenase shingga meningkatkan performa bakteri dalam produksi 3-HP. 

Jadi dapat disimpulkan bahwa rekayasa metabolisme mikroorganisme menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas biokilang meskipun hal ini masih menjadi tantangan  terbesar dalam komersialisasi produk biokilang karena membutuhkan biaya, waktu dan usaha yang besar. Meskipun sekarang teknologi rekayasa metabolisme sudah menggunakan sistem komputerisasi dan robotik namun harus dipikirkan agar nilai jualnya mampu berkompetisi secara ekonomi dengan produk petrokimia misalnya menggunakan sumber daya berbasis limbah biomassa dan menerapkan sistem reuse air limbah cair dalam proses biokilang.

Negara Indonesia kaya akan sumber daya hayati, tetapi sampai saat ini kita belum memanfaatkan secara maksimal, padahal produksi sampai produk hilir memberikan nilai tambah ekonomi yang sangat besar. faktor-faktor apa saja yang berpengaruh? Mindset masyarakat Indonesia yang masih berkiblat sebagai konsumen karena dininabobokan bahwa Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya. Hal ini secara tidak sadar menjadikan bangsa Indonesia menjadi konsumen dan bukan produsen karena merasa cadangan sumber daya masih banyak, masih kurangnya sumber daya manusia (SDM) pada tingkat hilir yang berkompeten dalam teknologi dan pengetahuan tentang biokilang, masih banyaknya peneliti saat ini yang hanya mengejar target publikasi ketimbang bagaimana mengkomersialisasikan hasil penelitian atau paling tidak bisa memberdayakan masyarakat dan menghidupkan ekonomi, masih kurangnya dukungan pemerintah dalam membantu inkubasi teknologi dan ilmu pengetahuan (hasil penelitian) menjadi hasil penelitian yang bisa menghasilkan produk yang dapat dikomersilkan dan dapat berkompetisi dalam pasar

Dibutuhkan dukungan pemerintah dalam menerapkan kebijakan yang berpihak pada pemanfaatan sumber daya alam (SDA) dalam negeri, misalnya : kebijakan pengurangan impor bahan kimia tertentu yang potensi dan sudah siap dikembangkan produksinya di Indonesia. Kebijakan ini harus diimbangi dengan persiapan infrastruktur terkait produksi bahan kimia dalam negeri misal teknologi, ahli-ahli dibidangnya dan pemberdayaan masyarakat lokal penghasil SDA lokal yang potensial dikembangkan dan memiliki nilai jual tinggi. Mungkin bisa juga dimulai dengan adanya proses transfer ilmu peneliti mengenai teknologi dan teknis pemanfaatan SDA yang memiliki nilai jual melalui pemberdayaan dan pendampingan masyarakat lokal sampai masyarakat bisa mandiri memanfaatkan dan mengkomersialisasikan produk. Berkolaborasi dengan ahli bidang ilmu lainnya, misalnya ahli bidang sosial untuk mempermudah proses introduksi teknologi dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat sehingga mudah untuk diterima dan berkelanjutan.

 

Referensi:

Biorefineries for The Production of Top Building Block Chemicals and Their Detivates

Sol Choi, Can Woo Song, Jae Ho Shin dan Sang Yup Lee. 2015 : Metabolic Engineering 28: 223-239.

Blog_entry: 

Facebook comments