Sampah : Strategi Rasional Mengatasi Persoalan Sampah

gambar : www.earth991.com

Persoalan sampah sering menjadi persoalan baik di kota besar atau kecil. Sampah, keberadaannya lekat dengan aktivitas manusia. Setiap orang diperkirakan memproduksi sampah  1,2 kg per hari, artinya setiap bulan diproduksi 36 kg sampah/orang/hari (The World Bank : A Global Review of Solid Waste Management) . Nilai ini belum diakumulasi dan diperkirakan meningkatnya populasi dan perkembangan gaya hidup serba instan berdampak pada meningkatnya laju produksi sampah.

Di negara berkembang seperti Indonesia, pemulung menjadi bagian dari unsur manajemen pengelolaan sampah yang penting. Meskipun keberadaan pemulung hanya sebatas informal, peran besarnya memberi manfaat dalam manajemen pemilihan sampahmengurangi biaya produksi pengelolaan sampah, memperpanjang lifetime dan memperluas space tempat pembuangan akhir dan kegiatan recycle yang dilakukan dapat mengurangi penggunaan raw material baru sehingga ketersediaan sumber daya alam meningkat (Maldonado, 2006 : Surviving From Garbage: The Role Of Informal Waste-Pickers In A Dynamic Model Of Solid-WasteManagement In Developing Countries).  Tetapi, apakah kita akan terus bergantung kepada mereka (pemulung) atas sampah yang kita produksi sendiri?

Masalah kecenderungan menjadi penonton atau bystander problem menjadi satu persoalan kenapa kita menjadi abai dengan sampah yang notabene kita diproduksi sendiri. Kita cenderung melimpahkan seluruh pengelolaan dan persoalan sampah kepada pemerintah tanpa menyadari kitalah yang harus bertanggung jawab karena kita menjadi bagian dari produsen sampah. Bystander problem dalam kasus sampah yang disebabkan ketidaksadaran yang sepertinya sudah menjadi gaya hidup yang membudaya.

Larangan tentang membuang sampah pada tempatnya sebenarnya sudah diatur dalam UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah pasal 29 dan selebihnya diatur dalam Peraturan Daerah. Tapi implementasi hukum sepertinya kurang berjalan dengan baik bahkan tak kurang tidak memberi dampak awareness masyarakat untuk bertanggungjawab membuang sampahnya sendiri pada tempat yang ditentukan.

Strategi penataan bersifat normatif diharapkan menimbulkan ketaatan jika persyaratan dan kewajiban dipenuhi. Jika hanya cukup menggunakan strategi normatif bisa dimungkinkan kecenderungan orang menaati peraturan atas dasar sebatas memenuhi hukum. Ibarat membangun rumah tanpa pondasi, tidaklah mungkin bisa mengatasi gaya hidup yang kurang aware hanya dengan strategi bersifat normatif dan tidak melakukan revolusi mental sejak dini. Diperlukan suatu strategi penaataan pola perilaku yang menimbulkan awareness lingkungan terkait sampah. Strategi penataan bersifat rasional mengusulkan agar masyarakat yang diatur mengikuti logika konsekuensi, artinya ketaatan dibangun atas dasar alasan rasional, awarness membuang sampah pada tempatnya.

Salah satu pendekatan strategi rasional untuk menciptakan awareness lingkungan yang diusulkan adalah pendekatan perilaku (behaviour). Perilaku merupakan unsur pembentuk gaya hidup dan budaya masyarakat. Melalui pendekatan tingkah laku sejak dinilewat pendidikan akan membawa orang kepada pengetahuan lingkungan yang membawanya kepada pemahaman yang diimplementasikan lewat perilaku yang nantinya menjadi budaya. Dengan begitu diharapkan dapat membawa masyarakat menaati hukum bukan karena takut denda atau sanksi melainkan kesadaran.

Implementasi pendekatan ini bisa dilakukan dengan integratif ekologi, artinya memasukkan materi atau pendidikan tentang lingkungan hidup dalam kurikulum sejak pendidikan dasar. Memasukkan materi pembelajaran materi pemilihan sampau organik dan anorganik sejak pendidikan dasar membawa anak pada gaya hidup ramah lingkungan. Atau bisa juga lewat pendekatan kontekstual, misalnya memberikan pemahaman lingkungan hidup termasuk membuang sampah dalam pendidikan agama, yang selama ini agama dianggap berperan membentuk karakter anak.  Secara informal pendekatan perilaku dapat dilakukan melalui workshop, kajian, sarasehan dan seminar diranah organisasi masyarakat paling kecil misalnya lewat PKK atau pengajian yang tentunya secara konsisten dan kontinyu dilakukan. Ibu rumah tangga perlu dan penting dilibatkan dalam menciptakan awareness sejak dini karena Ibu merupakan agen utama pembentuk karakter anak dan keluarga merupakan satuan kelompok terkecil masyarakat. Implementasi dengan menyediakan sampah organik dan anorganik selama ini belum efektif karena kurangnya pemahaman masyarakat awam akan definisi sampah organik dan anorganik. Bahkan beberapa masyarakat awam yang tadinya ingin belajar memilah sampah menjadi minder ketika membuang sampah karena ketidaktahuannya akan definisi sampah organik dan anorganik.

Perlu dilakukan penyederhanaan strategi agar masyarakat awam menjadi lebih mudah memahami mengelola sampah. Misalnya, klasifikasi tempat sampah menjadi tempat sampah sisa makanan, kertas dan plastik atau dengan gambar ilustrasi sehingga memudahkan masyarakat awam belajar dan memahami dengan mudah ketimbang menggunakan istilah sampah organik dan anorganik. Dengan begitu, masyarakat awam lebih mudah membuang sampah tanpa harus dibingungkan dengan pertanyaan di mana saya harus membuang sampah? atau sampah saya termasuk organik atau anorganik?

Facebook comments