Peran Gajah dalam Hutan Tropika

(sumber gambar: www.worldwildlife.org/species/elephant)

Hari-hari ini saya sering melihat video yang beredar di media tentang konflik gajah dengan manusia, gajah yang memasuki pemukiman dan merusak perkebunan Dan ternyata konflik ini timbul karena adanya deforestasi hutan yang selama ini menjadi habitat gajah. Gajah mulai kehilangan habitatnya yang dialihfungsikan sebagai lahan pertanian, perkebunan, pemukiman bahkan sumber dayanya diambil untuk kepentingan industri. Gajah Asia tercatat sebagai satwa terancam punah oleh Konservasi Dunia IUCN. Padahal gajah memiliki peran besar dalam keragaman hayati di hutan tropika. Gajah memainkan peran penting dalam regenarasi hutan tropika dengan cara menjadi agen penyebar biji. Selain berperan dalam penyebaran biji, gajah juga berperan dalam mempercepat proses perkembangan tunas dari biji yang disebarkannya. Banyak penelitian menyimpulkan bahwa gajah memberi dampak yang besar bagi habitat di mana gajah tinggal melalui aktivitas makannya.

Gajah merupakan salah satu megaherbivora darat pemakan buah. Oleh aktivitasnya sebagai pemakan buah, gajah mampu menyebarkan biji buah yang dimakannya bersamaan dengan feses yang dikeluarkan baik dalam kondisi utuh atau terfragmentasi (Kitamura et al. 2007). Penyebaran atau pendispersian biji tumbuhan oleh gajah dipercaya memiliki pengaruh yang besar dan penting di hutan tropika (Dudley, 2000). Peranan gajah merupakan salah satu kunci dalam kehidupan tumbuhan terutama dalam proses suksesi, regenerasi dan konservasi ekosistem hutan mempertahankan biodiversitas (Dudley, 2000 dan Campoz-Arceiz et al. 2008). Namun sekarang populasi gajah terancam punah dan diprediksi akan berdampak pada menurunnya populasi tumbuhan yang bergantung pada gajah sebagai pendispersi biji (Yumoto et al, 1995).

Pengambilan data tentang jenis biji tumbuhan yang disebarkan oleh gajah diketahui dengan analisis feses gajah dengan metode penghitungan feses gajah atau dung count analysis untuk selanjutnya diisolasi dan identifikasi  (Yumoto et al. 1995; Dudley, 2000; Kitamura et al. 2007; Campoz-Arceiz et al. 2008 dan Jothish et al. 2013). Dari penghitungan feses gajah diperoleh data mengenai jumlah gundukan feses setiap defekasi dan frekuensi ditemukannya jenis biji tertentu dalam feses gajah (Dudley, 2000). Feses gajah yang sudah dianalisis kemudian diisolasi dengan cara mengoyak dan membedah feses gajah untuk selanjutnya diidentifikasikan spesies biji tumbuhan (Jothish et al. 2013). Uji perkecambahan juga dilakukan untuk mengetahui proses regenerasi kaitannya dengan pertumbuhan biji di dalam feses gajah (Dudley, 2000; Campoz-Arceiz et al. 2008 dan Jothish et al. 2014). Dengan uji perkecambahan kita dapat memperkirakan kemampuan hidup biji menjadi tunas/ bakal tumbuhan dan mengetahui pengaruh feses pada pertumbuhan tunas biji. Uji perkecambahan dilakukan dengan cara menumbuhkan sampel biji dalam kontainer/ sel berukuran 4 x 4 x 5 cm berisikan gundukan kotoran gajah dan tanah untuk kemudian dilakukan observasi sampai terbentuknya tunas (Campoz-Arceiz et al. (2008). Pengamatan dan monitoring dilakukan setiap 3 kali seminggu sampai terbentuk daun sejati dan kemudian dibandingkan dengan biji kontrol. Pola penyebaran biji juga diketahui dari data observasi lapangan dengan menggunakan GPS Telemetri. Observasi lapangan dilakukan di lokasi di mana ditemukan populasi gajah dan dilakukan perekaman setiap empat jam sekali selama 2-3 minggu selama puncak musim hujan dan kemarau (Campoz-Arceiz et al. 2008). Campoz-Arceiz et al. (2008) mencatat bahwa biji Tamarindus indica yang diambil dari feses gajah dan ditumbuhkan dalam media tanah yang mengandung campuran feses gajah memiliki waktu pembentukan tunas jauh lebih pendek dibandingkan biji terkontrol. Jika biji Tamarindus indica terkontrol memerlukan waktu 18,5 + 4 hari untuk menghasilkan tunas, biji Tamarindus indica yang berasal dari feses gajah hanya memerlukan waktu 14,7 + 3,4 hari untuk menumbuhkan tunas daun.

Tren yang sama terjadi pada pertumbuhan biji Careya arborea, Cassia fistula, Chrysophyllum roxburghii di Taman Nasional Silent Valley, India. Biji-biji tersebut yang sudah dimakan gajah Asia (Elephas maximus) dan keluarkan bersamaan dengan feses memiliki waktu berkecambah lebih cepat dan signifikan dibandingkan biji terkontrol. Biji yang membutuhkan waktu perkecambahan paling signifikan adalah Careya arborea yaitu selama 24 hari, lebih cepat dibandingkan biji Careya arborea  terkontrol selama 31 hari walaupun hanya menghasilkan tunas dengan ukuran kecil (Jothish, 2013). Unsur hara mikro yang berasal dari feses gajah menjadi sumber nutrisi yang baik serta adanya bolus feses memberikan  perlindungan biji terhadap kekeringan sehingga mempercepat proses perkecambahan biji (Kitamura et al. 2007). Namun agregasi feses gajah yang berupa bolus-bolus feses yang membentuk gundukan dapat menghambat proses pertumbuhan biji menjadi tunas apabila di dalam agregasi tidak hanya terdapat lebih dari satu biji buah. Adanya agregasi dalam bentuk gundukan menjadikan kemampuan hidup biji menjadi tunas semakin berkurang karena adanya kompetisi memperebutkan nutrisi oleh biji yang terdapat dalam feses gajah (Dudley, 2000). Akan tetapi faktor hambatan ini tidak terlalu signifikan berpengaruh bila dibandingkan peran gajah dalam proses mempercepat pembentukan tunas dari biji yang dikeluarkan bersamaan dengan fesesnya (Jothish, 2013).

Observasi lapangan dengan GPS telemetri.Kombinasi hasil data analisis penghitungan jumlah feses, uji perkecambahan dan observasi GPS memberikan gambaran mengenai pola spasial penyebaran biji oleh gajah. Observasi populasi gajah dilakukan  Taman Nasional Yala di Srilanka dan Bago di Myanmar selama musim hujan dan kemarau. Pada musim kemarau gajah di Taman Nasional Bago, Myanmar menyebarkan biji dengan jarak tempuh rata-rata 2105 m, lebih jauh dibandingkan pada musim hujan dengan jarak 1462 m sedangkan di Taman Nasional Yala, Srilanka gajah mampu menyebarkan biji dengan jarak tempuh 3968 m pada musim kemarau, lebih jauh dibandingkan musim hujan dengan jarak 1300 m (Campoz-Arceiz et al. 2008). Perubahan musim secara tidak langsung mempengaruhi pola penyebaran biji oleh gajah Asia dengan mempengaruhi mobilitas gajah di Taman Nasional tersebut. Perubahan musim yang menyebabkan terjadinya perubahan mobilitas gajah menyebabkan biji tersebar lebih jauh dengan pola yang berbeda setiap musimnya. Bahkan di Taman Nasional Hwange, Zimbabwe, mobilitas gajah Afrika sekitar 20-50 km/ hari, lebih jauh dibandingkan gajah Asia (Dudley, 2000). Pola pernyebaran biji oleh gajah yang berbeda setiap terjadi perubahan musim menunjukkan bahwa gajah berperan dalam pendistribusian biomassa tumbuhan dalam suatu hutan tropika (Dudley, 2000). Melalui observasi lapangan juga dapat diketahui waktu retensi gajah. Gajah Asia di Myanmar dan Srilanka memiliki waktu retensi rata-rata 39,5 jam baik pada musim kemarau atau hujan (Campoz-Arceiz et al. 2008) sedangkan waktu retensi gajah Afrika di Taman Nasional Hwange rata-rata 24-36 jam (Dudley, 2000). Waktu retensi gajah lebih pendek dibandingkan waktu retensi hewan mamalia lainnya seperti kuda dan kedelai (42-80 jam). Kombinasi faktor jarak tempuh yang jauh dan waktu retensi yang pendek menjadikan gajah potensi menyebarkan biji tumbuhan dengan distribusi merata sehingga biodiversitas dapat dicapai (Dudley, 2000 dan Campoz-Arceiz et al. 2008).

Punahnya populasi gajah sebagai penyebar biji akan berdampak pada keberlangsungan hidup tumbuhan di hutan tropika terutama dalam proses regenarasi dan konservasi. Jasa ekosistem yang ditawarkan gajah dalam proses regenarasi tumbuhan di hutan tropika karena gajah menyebarkan biji dan memperpendek waktu perkecambahan biji menjadi tunas, bakal tumbuhan baru. Gajah juga mampu menyebarkan biji dengan jarak jelajah cukup jauh sehingga berpotensi meningkatkan biodiversitas dan biomassa spesies endemik di hutan tropika. Oleh karena itu fakto-faktor yang mempengaruhi keberadaan populasi gajah sebagai kunci regenerasi perlu menjadi perhatian terutama dalam hal konservasi tumbuhan di hutan tropika.

 

Referensi

Campoz-Arceiz, A., A.R. Larrinaga, U.R. Weerasinghe, S. Takatsuki, J. Pastorini, P. Leimgruber, P. Fernando, & L. Santamaria. 2008. Behavior Rather Than Diet Mediates Seasonal Differences in Seed Dispersal by Asian Elephants. Ecology 89 : 2684-2691.

Dudley, J.P. 2000. Seed Dispersal by Elephants in Semiarid Woodland Habitats of Hwange National Park, Zimbabwe. Biotropica 32 : 52-59.

Jothish, P.S. 2013. Frugivory and Seed Dispersal of Woody Species by the Asian Elephant (Elephas maximus) in a Mid-Elevation Tropical Evergreen Forest in India. Journal of Tropical Ecology 29 : 181-185.

Kitamura, S., T. Yumoto, P. Poonswad, & P. Wohandee. 2007. Frugivory and Seed Dispersal by Asian Elephants, Elephas maximus, in a Moist Evergreen Forest of Thailand. Journal of Tropical Ecology 23 : 373-376.

Yumoto, T., T. Maruhashi, J. Yamagiwa, & N. Mwanza. 1995. Seed dispersal by Elephants in a Tropical Rain Forest in Kahuzi-Biega National Park, Zaire. Biotropica 27 : 526-530.

Blog_entry: 

Facebook comments