Pengelolaan Sampah dengan Waste to Energy (WTE) : Apakah Berkelanjutan?

 

Sampah sampai sekarang masih menjadi persoalan di perkotaan, baik di kota-kota besar maupun di kota-kota kecil. Beberapa bulan yang lalu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, melaporkan bahwa Indonesia sudah mengalami darurat sampah. Sampah perkotaan yang hanya di buang ke TPA dan tanpa dikelola akan menghasilkan gas metan, 25 kali berpotensi menyebabkan pemanasan global dibandingkan karbon dioksida sehingga pengelolaan sampah menjadi sesuatu yang penting dalam rangka mengurangi dampak pemanasan global.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo terus berkomitmen mengatasi persoalan sampah salah satunya dibuktikan dengan menetapkan 7 daerah menjadi lokasi percontohan pengelolaan sampah menjadi energi melalui program pembangkit listrik berbasis sampah (PLTSa), salah satunya adalah Kota Surakarta. Berdasarkan dokumen Rancangan Peraturan Presiden tentang Percepatan Pembangunan PLTSa ada 3 teknologi yang digunakan untuk waste to energy (WTE) yaitu dengan proses termal : gasifikasi, insinerasi dan pirolisis. Ke-7 daerah yang ditetapkan sebagai lokasi pilot project terus berbenah mempersiapkan diri menjadi percontohan pengelolaan sampah menjadi energi.

Salah satu persiapan yang mendasar dan penting yang semestinya dilakukan adalah melakukan studi analisis sampah dan kajian lingkungan. Analisis karakteristik jenis sampah menjadi perlu dan penting sebagai bahan pertimbangan implementasi teknologi. Komposisi sampah yang dihasilkan di Kota Surakarta belum tentu sama dengan sampah yang diproduksi di Kota Jakarta atau Bandung sehingga bisa jadi teknologi yang digunakan berbeda. Sebagai contohsebuah studi melaporkan bahwa sampah yang diproduksi di TPA Taman Beringin, Kuala Lumpur, Malaysia memiliki karakteristik sampah dengan kandungan kelembapan tinggi sekitar 52 - 66% sehingga lebih cocok menggunakan teknologi Anaerob Digestion (AD) atau penguraian secara anaerob karena kelembapan tinggi mempercepat penguraian sampah untuk menghasilkan energi listrik dan biogas.. Teknologi insinerasi tidak direkomendasikan di TPA Taman karena sampah dengan kelembapan tinggi menurunkan produksi panas yang dihasilkan selama proses pendegradasian sampah. Dengan kata lain teknologi insinerasi tidak efisien diterapkan terhadap sampah dengan kelembaban tinggi. Insinerasi sendiri lebih cocok diterapkan dengan karakteristik sampah yang bervariasi. Selain itu insinerasi juga memiliki kelebihan dapat mereduksi volume sampah hingga 80-90% dan menurunkan berat sampah hingga 98-99%. Tidak menutup kemungkinan teknologi proses termal seperti insinerasi dan gasifikasi diterapkan di Kota Surakarta apabila berdasarkan kajian studi implementasi teknologi dan karakterisasi sampah memang berpotensi menghasilkan energi dengan tingkat efisiensi tinggi dan dengan teknologi yang tidak mencemari lingkungan.

Solusi mengatasi persoalan sampah dengan teknologi WTE memang mampu mengatasi persoalan penumpukan sampah melalui proses reduksi volume sampah plus bonus energi listrik yang dihasilkan dari teknologi WTE. Namun kita tidak boleh lupa bahwa tujuan awal dari proyek ini adalah mengatasi persoalan lingkungan di mana ke depan daya dukung lingkungan tidak mampu lagi menahan beban penumpukan sampah perkotaan. Jangan sampai teknologi pengelolaan sampah yang mampu mengatasi krisis penumpukan sampah justru menimbulkan masalah lingkungan di sisi lain. Kajian lingkungan terhadap implementasi teknologi WTE menjadi bagian yang tak kalah penting sebelum proyek ini berjalan. Sebagai contoh yang sama, kajian studi lingkungan terhadap WTE di TPA Taman Beringin, Kuala Lumpur, Malaysia menyebutkan bahwa emisi karbon dari teknologi insinerasi lebih besar dibandingkan teknologi AD. Selain itu gas dioksin juga diemisikan dari pembakaran sampah padahal paparan gas dioksin berbahaya bagi kesehatan manusia. Berdasarkan inventarisasi Kementrian Lingkungan Hidup tahun 2014 menyebutkan data lepasan gas dioksin akibat pembakaran tidak sempurna di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 9,881 gram TEQ padahal menurut Environmental Protection Agency (EPA) batas normal manusia dewasa dapat menerima paparan dioksin adalah sebanyak 1-10 pgram/ kg berat badan manusia.

Informasi Ini haruslah menjadi catatan penting agar teknologi yang dikembangkan dalam mengatasi krisis penumpukan sampah tidak menyebabkan persoalan lain dalam lingkungan. Sehingga kajian studi dari sudut pandang aspek lingkungan dan efisiensi teknologi secara lebih dalam perlu dilakukan agar pengelolaan sampah dengan teknologi WTE yang akhirnya nanti dipilih benar-benar menjadi pilihan yang berkelanjutan.

Facebook comments