Pariwisata Berkelanjutan : Hasil Kebudayaan Tangguh

 

Dua ratus tahun terakhir setelah revolusi industri, populasi manusia mengalami peningkatan yang signifikan. Seperti pendapat yang dikemukakan  Thomas Malthus dalam teorinya (1798), populasi manusia mengalami pertumbuhan jauh lebih cepat secara deret ukur dan bukan secara deret hitung. Meningkatnya jumlah penduduk berbanding lurus dengan kebutuhan hidup namun ketersediaan sumber daya semakin menipis. Seiring dengan hal itu, munculnya modernisasi turut mendorong manusia menjadi seseorang dengan tuntutan hidup yang tinggi. Tren pertumbuhan populasi dengan pola hidup yang seperti ini tentu meningkatkan tingkat stress seseorang. Pariwisata menjadi pilihan solusi yang tepat untuk sementara waktu memulihkan kondisi manusia dari tingkat stress bahkan sekarang keberadaan pariwisata sudah bergeser kepada kebutuhan manusia.  

Booming tourism dianggap memberikan keuntungan bagi beberapa daerah untuk meningkatkan pendapatan. Di indonesia, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, tahun 2013 kedatangan 8,8 juta turis mancanegara berkontribusi menyumbang devisa negara sebesar 10 milyar dolasr AS.

 

Hal ini mendorong menteri pariwisata Indonesia mentargetkan peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 20 juta untuk menjadi leading sector yang berkontribusi menghasilkan devisa negara. Akan tetapi melimpahnya sumber daya wisata di Indonesia tidak diimbangi infrastruktur dan aksesibilitas yang memadai. Target pengembangan pariwisata 20 juta wisatawan mancanegara seolah menjadi titik kebangkitan yang menghidupkan diri sektor pariwisata itu sendiri, di mana setiap daerah berlomba-lomba membuat media marketing dan promosi yang kreatif dan atraktif untuk menarik wisatawan. Sebagai contoh media sosial, teknologi informasi melalui media sosial menjadi alat yang paling berpengaruh dalam promosi wisata bahkan potensi wisata suatu. Fenomena selfie, groufie berlatar belakang lanskap pemandangan alam, bangunan bersejarah dan wisata lainnya merupakan fenomena yang diciptakan lewat media sosial. Fenomena yang sudah menjadi mainstream baru ini berpengaruh menarik wisatawan. Media sosial seperti koin bermata dua, di satu sisi menjadi urat nadi dalam akselerasi industri pariwisata tetapi di sisi lain potensial menciptakan kerusakan lingkungan. Melesatnya internet sebagai media promosi yang tidak dibarengi edukasi lingkungan hanya seperti mendatangkan keuntungan salah satu aspek saja, ekonomi. Implementasi target wisata dan arus informasi yang kuat melalui tren mainstream yang baru-baru terjadi  tidak diimbangi kesiapan infrastruktur dan edukasi wisata yang berwawasan lingkungan tentu akan menjadi pariwisata yang tidak berkelanjutan

Dalam menghadapi tantangan arus informasi yang sangat cepat dan potensi dampak negatif dari kebijakan Kemenetrian Pariwisata untuk mempromosikan besar-besaran potensi wisata, kita perlu mempersiapkan strategi menciptakan pariwisata yang berkelanjutan. Berkelanjutan tidak hanya mencakup aspek ekonomi tetapi juga menghidupkan budaya dan sosial masyarakat lokal tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Mengapa pariwisata berkelanjutan ini penting? Pemanfaatan suatu potensi daerah terkadang bertentangan dengan pelestarian maka penting untuk menciptakan strategi pariwisata yang berbasis pelestarian. Ecotourism atau ekowisata menjadi salah satu lingkup dari wisata berkelanjutan. Ekowisata menjadi jalan mengubah paradigma bahwa kekuatiran lingkungan tidak lagi menjadi “minat khusus” tetapi sudah menjadi minat setiap orang. Ekowisata menjadi bagian menghidupkan sense of belonging akan suatu obyek wisata, dengan begitu wisatawan turut menyayangi dan melestarikan lingkungan suatu wisata. Ekowisata menurut definisi Audumon Society dalam buku Rebirth of Nature adalah suatu wisata alam dengan tujuan memahami budaya dan sejarah alam lingkungan sekitar dengan tetap mempertahankan ekosistem dan memberikan peluang ekonomi untuk pelestarian lingkungan dan menghidupi masyarakat lokal (dalam buku John Naisbitt, 1994 yang berjudul Global Paradox). Konsep pariwisata berkelanjutan sekarang ini bukan lagi menjadi angan atau desain abstrak semata tetapi memang harus segera diimplementasikan dalam sektor pariwisata kita sebagai bentuk respon menghadapi tantangan akan adanya booming tourism dan tren media sosial saat ini

Beberapa waktu lalu saya mengikuti sebuah Seminar Nasional Kepariwisataan bertemakan : Sustaining Our Paradise( Menelaah Implementasi Pariwisata Berkelanjutan)di Universitas Gadjah Mada. Salah seorang pembicara, Mbak Risma Mukti, General Manager Candi Borobudur, memaparkan begitu jelas langkah-langkah yang diambil manajemen Borobudur dalam rangka menciptakan pariwisata berkelanjutan. Mulai dari sistem pembagian zona wisata, meningkatan fasilitas, pemberdayaan potensi desa, CSR, manajemen pedagang yang berpihak pada pedagang lokal,  visitor manajemen dengan membuat obyek wisata lainnya di dalam kompleks seperti museum edukasi, taman atau atraksi-atraksi. Hal ini bertujuan menyebar konsentrasi jumlah wisatawan yang terpusat pada salah satu obyek wisata pada peak session agar tidak melebihi kapasitas/ daya tampung suatu wisata. Manajemen Candi Borobudur juga mengaolakasikan 20% dari penjualan tiket untuk pelestarian candi dan konservasi. Salah seorang pembicara dari Ocean of Life Indonesia, Mas Bintang Hanggono mengatakan ketika suatu daerah berbicara tentang pariwisata berkelanjutan, daerah itu harus bisa menganalisis jenis pengunjung, mengedukasi pengunjung dan membangun koneksitivitas dengan lingkungan sekitar misalnya pengelolaan tempat kantong parkir sebagai solusi kemacetan dan keberedaan hotel di sekitar obyek wisata. Menurut saya, suatu pariwisata yang berkelanjutan tentu mampu menerapkan strategi quad helix : terkoneksi dan berkolaborasi dengan 4 unsur utama yaitu pemerintah, komunitas, akademisi, dan pelaku usaha lokal. Kolaborasi keempat unsur akan melahirkan sistem pariwisata berkelanjutan yang benar-benar berkelanjutan dan bukan hanya branding semata. Edukasi lingkungan juga menjadi salah satu fokus pariwisata berkelanjutan, bagaimana cara menghidupkan sense of belonging warga sekitar dan wisatawan di suatu daerah wisata sehingga kelestarian wisata dapat terus dijaga. Teknologi virtual khususnya media sosial bukan lagi berperan tunggal sebagau media marketing tetapi media edukasi yang paling efektif dalam pelestarian lingkungan di era sekarang, tentunya dengan melibatkan keempat 4 unsur quad helix. Orang ketika mengunjungi wisata tidak lagi menjadi awam edukasi pelestarian lingkungan alam dan budaya tetapi itu dengan teknologi virtual orang disuguhkan promosi dan edukasi wisata dalam satu “menu” sehingga ini secara tidak langsung membentuk kesadaraan lingkungan.

Pariwisata berkelanjutan bukanlah suatu gebrakan yang diciptakan secara instan tetapi memerlukan dorongan dan effort lebih dari keempat unsur quad helix untuk bangkit dan berpindah dari zona nyaman sistem yang ada. Proses ini bukan proses yang “semalam suntuk” jadi tetapi setiap hari harus terus diciptakan oleh keempat unsur quad helix secara berkelanjutan dan akhirnya menciptakan budaya yang menjadi identitas wisata berkelanjutan. Saya mengkutip salah satu pendapat Mas Bintang Hanggono :

 

"pariwisata berkelanjutan itu bukan tujuan tetapi hasil dari kebudayaan yang tangguh."

 

Facebook comments