Live It Green

 

Paradoks hutan Indonesia sebagai salah satu menyumbang oksigen terbesar di dunia namun di sisi lain hutan Indonesia sebagai penyumbang emisi karbon terbesar di dunia.

Kebakaran hutan Indonesia tahun 1997/1998 menjadi awal tragedi kerusakan hutan dengan menjadikan Indonesia sebagai penyumbang emisi karbon terbesar ke-2 di dunia. Kebakaran hutan tahun 1997/1998 menghasilkan 0.19 – 0.23 gigaton karbon ke atmosfer atau setara dengan meningkatkan emisi karbon dunia 13 hingga 40% (Susan Page, 2002, The Amount of Carbon Released from Peat and Forest Fires in Indonesia during 1997, Nature Vol. 420).

Apakah kita cukup hanya duduk diam dan menunggu rekor ini terulang kembali ?

Kebakaran hutan seperti menjadi bencana tahunan, rutin terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Jika tahun lalu istilah “kebakaran hutan” sering diungkapkan media, tahun ini istilah “pembakaran hutan” lebih sering diungkap. Artinya, masyarakat sudah mengetahui dan menyadari bahwa “kebakaran hutan” yang terjadi beberapa bulan ini terakhir ini sebagian besar memang dilakukan secara sengaja.

Sebagian hutan di Indonesia merupakan lahan rawa gambut dengan luas diperkirakan 20,6 juta hektar, atau 10,8% dari luas daratan Indonesia (wetlands.or.id). Lahan gambut merupakan ekosistem unik yang terbentuk ribuan tahun yang lalu. Keberadaan lahan gambut berperan penting sebagai menampung sumber air, mencegah banjir dan instrusi air tanah serta pendukung keanekaragaman hayati. Komposisinya tersusun dari sisa tumbuhan mati yang tergenang air dalam waktu yang sangat lama menjadikan lahan gambut menjadi penyimpan fosil karbon terbaik. Tergenangnya permukaan tanah oleh air menjadikan keberadaan mikroorganisme dekomposer jarang, artinya proses dekomposisi sangat minimal.  Oleh karena keunikan ini rawa gambut di Indonesia memiliki nilai biologi dan peran yang besar sebagai carbon sink terbaik.

 

Ilustrasi degradasi hutan untuk lahan perkebunan (Kompas, 7 Oktober 2015)

Ilustrasi degradasi hutan untuk lahan perkebunan (Kompas, 7 Oktober 2015)

 

Alih fungsi lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit secara perlahan menggeser peran lahan gambut sebagai carbon sink terbaik. Over ekspolitasi lahan gambut menjadi lahan perkebunan kelapa sawit sudah terlalu melebihi kapasitas daya dukung lahan gambut. Keinginan mengelola lahan secara instan dan tidak memikirkan biaya lingkungan menjadikan ekosistem gambut rusak dan tak dapat dikembalikan lagi fungsinya. Dengan membakar lahan gambut akan dihasilkan abu rata-rata 500 kg/hektar, di mana abu memiliki fungsi sebagai pengganti pupuk dolomite, penangkal asam di lahan gambut. Selain itu, persyaratan perkebunan sawit membutuhkan lahan dengan drainase sehingga kondisi ini menjadikan penurunan air muka tanah di rawa gambut.

Ibarat bahan bakar yang sangat mudah terbakar, lahan gambut kering mudah sekali terbakar. Lahan yang kering menyebabkan proses dekomposisi berlangsung lebih cepat karena mikroorganisme pendekomposisi sisa tumbuhan di dalam lahan gambut yang semula terhambat oleh adanya air gambut menjadi lebih aktif dan mempercepat proses pembusukan. Artinya ketika kering hal ini menjadikan lebih mudah dibakar. Dan menyedihkan lagi, sekali kita memanen lahan gambut menjadi lahan perkebunan kita tidak bisa mngembalikan keberadaan lahan gambut sebagai carbon sink. Emisi karbon yang dihasilkan ke atmosfer meningkat sehingga mengganggu keseimbangan alam dan hilangnya habitat satwa yang tinggal di hutan.

Solusi dengan pembuatan kanal sekat bersifat urgensi tetapi masih menjadi solusi yang dilematis. Jangan sampai pembuatan kanal sekat yang bertujuan membahasi lahan gambut saat terbakar nantinya menjadi hal yang membahayakan di kemudian hari. Kanal sekat yang dibuat terhubung langsung dengan sungai seperti halnya bom waktu di waktu musim kering apabila tidak diawasi akan menurunkan permukaan air muka tanah karena air turun masuk ke sungai. Oleh karena itu pembuatan kanal sekat harus ditinjau hati-hati sehingga tidak mengganggu neraca air dan siklus hidrologi di hutan gambut. Selain kanal sekat, pembuatan sumur bor di titik-titik rawan terbakar bisa menjadi solusi alternatif yang penting di kemudian hari. Sumur bom ibarat hidran yang ditempatkan di hutan lahan gambut. Sumur bom yang dihubungkan pompa air diharapkan mampu mencegah kebakaran dengan cara rewetting (pembasahan) di kemudian hari.

Berbagai usaha yang ditujukkan menghemat biaya produksi dan mendapatkan keuntungan yang besar bagi pihak tertentu justru tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk menanggulangi pembakaran hutan.

 

 

Mari kita mulai berpikir sedikit matematis, jika satu titik api dengan luas area 1 km2 membutuhkan 12.000 ton liter air sedangkan untuk satu helikopter penyemai bom air hanya berkapasitas 500 liter untuk sekali angkut dengan harga sewa 30-50 juta (Kompas, 12 September 2015), lalu berapa miliar biaya yang dibutuhkan untuk memadamkan satu titik api pembakaran hutan ?

Biaya ini belum termasuk biaya penanggulangan yang lain, biaya kerugian ekonomi, biaya kesehatan dan kerusakan lingkungan yang tak ternilai harganya. Mari coba kita hitung dan bayangkan betapa besar nilai itu.

Pemerintah sudah berupaya maksimal untuk mengatasi bencana pembakaran hutan mulai dari menciptakan hujan buatan, menyemai bom air di hutan yang terbakar dan upaya pembuatan kanal sekat dan menindak tegas pelaku dibalik pembakaran hutan. Melihat fenomena pembakaran hutan yang sangat luas mencapai 1,7 juta hektar (Kompas, 26 Oktober 2015) dan diperburuk dengan El Nino berkepanjangan di tahun ini membuat upaya tidak bisa dilakukan secara instan, semua butuh proses.

Sekarang bukan lagi saatnya kita mengkritik dan mencela upaya pemerintah kecuali jika pemerintah memang abai mengupayakan pemadaman kebakaran hutan.

Ada banyak cara untuk bisa mendukung pemerintah dalam memadamkan api salah satunya dengan kita turut mengawal dan mengawasi jalannya proses hukum terkait pembakaran hutan/ pembukaan lahan hutan dan bijak dalam konsumsi produk-produk hasil hutan dan turunan kelapa sawit (www.beliyangbaik.org). Kita juga bisa ikut menjadi bagian petisi #beliyangbaik dengan sign up di www.change.org/beliyangbaik untuk mendorong industri-industri memproduksi produk hasil hutan dan turunan kelapa sawit yang sustainable dengan ditandai sertifikasi ekolabelling.

Dan yang paling penting, kita juga harus menyadari bahwa kita juga bagian dari penyumbang emisi karbon setiap harinya. Bencana asap seharusnya menyadarkan kita betapa bahayanya paparan emisi karbon bagi kesehatan kita dan anak cucu kita dan bencana seharusnya membuat kita lebih bijak menggunakan energi. Hampir semua aktivitas manusia menggunakan energi yang menghasilkan emisi karbon. Sebagai contoh saya, sebagaian besar mobilitas saya menggunakan kendaraan bermotor. Dengan menggunakan kendaraan bermotor artinya saya menyumbang emisi karbon di atmosfer. Saya harus bertanggungjawab dengan emisi karbon yang saya dibuang ke lingkungan. Saya harus menggantikan emisi karbon yang saya keluarkan hampir setiap hari dengan menanam pohon mungkin. Atau saya bisa mulai dengan mengrurangi aktivitas berkendara motor dan menggunakan sepeda/berjalan kaki jika tujuan dekat.

Mari kita tidak berfokus menyalahkan orang lain atas bencana ini, kenapa kita tidak mulai dari sendiri untuk mewariskan bumi yang lebih nyaman untuk anak cucu kita. Karena setiap langkah besar yang ingin dicapai pasti dimulai dari langkah yang kecil.

Facebook comments