Kebahagiaan : Keadaan Tanpa Kelekatan

Mungkin kita semua sering membaca quote di timeline media sosial kita, misalkan yang sering saya jumpai “jangan lupa bahagia”. Lalu apa sebenarnya ukuran kebahagian itu? Orang seringkali berpikir bahkan bingung ketika ditanya arti kebahagian. Nyatanya, kebahagian menurut kita belum tentu kebahagian menurut orang lain bahkan seringkali kebahagian lebih condong dinilai dengan ukuran duniawi.

 

 

Rediscovering life (Menemukan kembali kehidupan) – membaca buku karya Athony de Mello ini merefresh kembali makna “apa arti kebahagiaan yang sesungguhnya” bagi saya. Buku ini membawa saya kembali mengoreksi dan mengingatkan kembali arti “kebahagiaan yang sesungguhnya” dengan sendirinya dengan alur cerita yang runtut dan sistematis.

Saya mencoba mencatat beberapa point yang saya dapat dari buku ini :

Beberapa dari kita sering tidak menyadari bahwa kita telah diprogram dengan gagasan duniawi yang keliru. Banyak dari kita bahkan kita semua sering memaknai “kebahagiaan adalah ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan.” Tapi justru ini yang keliru dimaknai. Keinginan justru menjadi akar segala penderitaan. Lalu apakah kita harus tidak memiliki keinginan ketika kita ingin bahagia? Bagaimana mungkin kita bisa hidup tanpa keinginan? Buku ini membantu menjawabnya dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.

Buku ini memberikan terjemahan yang lebih mudah dicerna dengan menggantikan kata keinginan dengan kelekatan. Kelekatan adalah akar penderitaan. Ada keinginan-keinginan yang jika tidak terpenuhi tidak berdampak pada kebahagiaan. Namun jika kita memiliki keinginan-keinginan, dan jika kita tidak mendapatkannya kita akan merasa menderita, itulah yang disebut dengan kelekatan. Saya kembali mencoba meresapi dan menelisik kedalaman hati, dari manakah datangnya kegelisahan dan  ketakutan yang membuat saya tidak bahagia? Dari kelekatan. Jika tidak ada kelekatan, maka tidak ada ketakutan.

Buku ini memberi contoh yang paling dekat dengan kehidupan saya, mungkin juga diantara kamu.

Jangan salah, sebenarnya musuh terbesar dari mencintai seseorang yang kita sayang adalah keinginan. Keinginan dalam pengertian kelekatan. Tahu kenapa? Jika saya menginginkan seseorang yang saya sayangi, saya ingin memilikinya. Bahkan bisa jadi saya dan kamu akan memanipulasi diri sendiri sehingga mendapatkan seseorang yang kita sayangi. Kelekatan berarti saya harus mendapatkan. Jika tidak, saya akan menderita. Itu namanya kelekatan.

Cinta berarti saya bahagia ketika mendapatkan seseorang yang saya sayangi dan jika tidak saya tidak akan menderita. Artinya kita telah belajar mencukupkan diri sendiri. Misal jika mendapatkan uang, itu bagus dan jika saya tidak mendapatkan uang, saya juga tidak akan depresi. Itu namanya bahagia.

Kita bisa benar-benar menikmati sesuatu bila kita tidak lekat karena kelekatan menimbulkan kegelisahan dan karena kegelisahan kita tidak mungkin bisa menikmati. Bukan berarti kita harus menarik diri dari keinginan, melainkan menarik diri keinginan memiliki, dari kegelisahan, dari tekanan, dari depresi kehilangan.

Lalu bagaimana kita bisa bahagia tanpa kelekatan?

 

Sebuah kata-kata bijak dari Tiongkok mengatakan, “ketika pemanah memanah tanpa berharap apa-apa, ia mengusai seluruh kemampuannya tetapi ketika ia memanah untuk mendapatkan ikat pinggang dari kuningan, ia akan gugup.” Ini artinya lakukan sesuatu dengan nothing to lose. Berikut adalah langkahnya :

 

1. Menyadari kondisi diri sendiri

Sayangnya seringkali realita kehidupan menunjukkan tarik menarik dua hal ini. Di satu sisi kebahagiaan, ketenangan, kedamaian (penguasaan diri). Di satu sisi ada dorongan dari masyarakat suapay kita menjadi sukses sesuai definisi mereka. Kita telah diprogram untuk membuat diri menjadi tidak bahagia ketika kehilangan seseorang. Kita telah terbiasa membuat diri kita sendiri tidak bahagia ketika seseorang menolak keberadaan kita, tidak setuju dengan kita dan meninggalkan kita. Kita telah terbiasa bergantung pada orang “secara emosional”.

 

2. Tidak menyalahkan siapapun ketika menyadari kondisi diri

Kematangan adalah ketika kita tidak menyalahkan siapapun. Kita tidak menyalahkan orang lain dan kita tidak menyalahkan diri sendiri atas ketidakbahagiaan kita. Kita melihat apa yang salah, dan siap memperbaiki. Itulah tanda yang cukup baik untuk kematangan. Berbuat sesuatu untuk mengatasinya.  

Sebuah ilustrasi :

Ketika lutut kita terantuk meja, kita harus memahami bahwa sakit tidak ada di meja. Sakitnya disebabkan oleh sesuatu yang terjadi pada lutut dan menyebabkan sakit. Sekarang kita terantuk realitas, ada sakit yang timbul dalam diri. Sakit itu tidak ditimbulkan oleh realitas atau orang lain atau diri kita tetapi oleh apa yang terjadi dalam diri kita.

 

Ketika kita memupuk kebencian terhadap seseorang atas ketidakbahagiaan kita, siapakah orang yang pertama kali kita rusak? Bukankah bukan diri kita sendiri (?)

 

3. Belajar mencukupkan diri

Mari belajar mengamati diri, kesadaran diri, pemahaman diri dan pembebasan diri. Ketika memahami diri, kita memahami alur kehidupan. Untuk segala sesuatu yang kita alami, belajar untuk mencukupkan diri sendiri baik dalam kesusahan dan kelimpahan. Kita belajar mencukupkan diri ketika kita menghadapi situasi di mana kondisi kita tercukupi dengan baik dan juga dalam kondisi tak punya apa-apa.

 

4. Melepaskan bentuk kelekatan

Kita benar-benar bisa menikmati kebahagiaan ketika kita melepaskan kelekatan. Mencabut kesedihan dengan melepaskan kelekatan. Memahami kelekatan bahwa keyakinan yang keliru – bahwwa seseorang membuat kita bahagia. Ketika kebahagiaan kita bergantung seseorang atau sesuatu, itu bukan kebahagiaan. Itu kegelisahan. Itu adalah kelekatan.

 

5. Berhenti bergantung pada orang lain

“kita harus bergantung satu sama lain dengan orang lain” Benar, kita harus saling membantu, saling kerjasaama dan saling peduli. Yang tidak baik adalah ketika bergantung pada orang lain untuk kebahagiaan kita sendiri. Ini yang dimaksud kita harus berhenti bergantung dengan orang lain, berhenti menghilangkan kebutuhan akan orang lain. Mungkin kedengarannya menakutkan karena tiba-tiba menjadi sendirian. Sendiri dan bukan kesepian- kebutuhan akan orang lain yang tak tertahankan, sampai pada taraf di mana kita tidak bahagia tanpa orang lain. Tetapi dengan begitu, kita akan menyadari betapa nikmatnya sendirian, betapa baiknya tidak bergantung secara emosional akan orang lain.

 

Buku ini “kembali” menjelaskan makna kebahagiaan yang sesungguhnya menjadi lebih mudah dipahami. Kenapa saya katakan “kembali”? Makna kebahagiaan sebenarnya sudah dicatatkan dalam Kitab Suci.

Facebook comments