Face It, Not a What If

Hi

Sudah lama tidak sempat nge-post diblog karena beberapa kesibukan. Izinkan saya sekedar berbagi sedikit cerita pengalaman

quote ini mengusik hati beberapa hari ini.


Begini ceritanya :

Beberapa hari ini sedang tidak bersemangat alias terkesan mengeluh mengerjakan tugas salah satu mata kuliah di studi pascasarjana saya. Tugas yang diberikan ini adalah membuat desain proyek teknologi energi terbarukan di suatu kawasan yang dimodelkan dengan simulasi software.

Yang membuat saya mengeluh waktu itu adalah saya tidak punya basic belajar memodelkan energi dan belajar software Retscreen (salah satu software simulasi desain energi) dan saya sudah berusaha belajar tetapi saya belum bisa memahami softwareini.

Basic ilmu saya sebelumnya adalah kimia sehingga belajar model energi, menghitung kebutuhan listrik dan potensi enegi serta memodelkan dan mensimulasikan adalah sesuatu yang baru bagi saya. Di mana sebelumnya saya belajar molekul, atom, ikatan, destilasi, filtrasi dan sebagainya tiba-tiba saya harus belajar kelistrikan, potensi surya, beban listrik dan ekonomi.

Arrrgh moment :D

Tapi jujur, saya menikmati belajar sesuatu yang baru dan itu menarik buat saya. Cuman yang membuat saya mengeluh beberapa hari ini saya belum bisa memahami referensi software Retscreen ini dan mengoperasikannya :(

Apa tidak ada teman/ kakak angkatan yang dimintai tolong untuk bisa mengajari?

Ada. Saya sudah meminta tolong salah satu kakak angkatan untuk mengajari mengoperasikan software ini. Kebetulan teman saya ini sedang mengerjakan tesis memodelkan proyek energi terbarukan di Pulau Anambas. Tapi saya merasa kurang enak hati meminta tolong untuk diajari hal yang terlalu basic sehingga saya meminta tolong diajari secara umum mengoperasikan software terutama belajar tentang input data dan interpretasi data.

Saya tipe orang “kurang enak hati dan kurang bisa” bertanya kalau saya belum belajar sendiri dulu memahami sampai saya ngerti. Baru saya “berani” bertanya hal-hal yang kurang saya pahami. Kalau untuk sekedar bertanya hal basic, buat saya itu membuat orang direpotkan untuk menjelaskan dari awal dan seharusnya bisa dipelajari sendiri padahal dia sendiri punya waktu untuk mengerjakan pekerjaannya.

Kebetulan tugas ini diberikan dalam jangka waktu satu minggu. Saya merasa kurang memiliki banyak waktu belajar sendiri software ini karena ada beberapa tugas lain yang prioritas sehingga membuat saya sedikit “kemrungsung” belajar.

Ada ketakutan yang saya hadapi, pertama saya kurang belajar sehingga saya merasa kurang maksimal dan kedua saya malu mempresentasikan hasil simulasi yang kurang maksimal ke depan seorang dosen yang memang ahli bidang energi terbarukan.

Saya takut dan malu jika ketika presentasi terlihat kurang persiapan. Saya malu, jangan-jangan ketika saya presentasi saya terlihat seperti bukan mahasiswa pascasarjana yang identik punya kemampuan dan analisis yang kuat. Bagaimana jika saya maju presentasi dan saya tidak bisa menjawab pertanyaan beliau, jangan-jangan beliau akan menjudge saya mahasiswa yang tidak mau berusaha belajar.

Intinya saya takut dan malu menghadapi tugas ini karena merasa belum cukup waktu.

Di detik-detik terakhir (beberapa jam sebelum jam kuliah) saya masih berharap diberikan tambahan waktu lebih untuk belajar dan mengerjakan tugas ini. Saya mengeluh dan saya sedih dengan diri saya yang belum bisa-bisa memahami mensimulasikan software ini dan menganalisisnya.

Tapi sepertinya mustahil T.T

Di tengah-tengah kegalauan (haha), saya membuka medsos dan saya menemukan quote ini “better an oops than a what if”. Kurang lebih kalau saya terjemahan seperti ini : “Lebih baik pernah salah daripada berpikir bagaimana jika..”

Saya menjadi tersadar dari kekuatiran dan kebimbangan saya.. 

 


 

Case cerita diatas buat saya memang pas dengan quote yang saya dapat waktu itu.

Apapun yang terjadi di depan kita kuncinya adalah hadapilah

Lebih banyak berpikir “bagaimana kalo saya begini? Bagaimana kalau saya begitu? bla bla” kadang-kadang membuat langkah menjadi stagnan. Terlalu banyak berpikir “bagaimana jika” padahal kita belum menghadapi justru itu membuat energi yang kita pakai untuk berpikir menjadi sia-sia. Berpikir “bagaimana jika...” memang penting, tetapi adakalanya kita harus bisa belajar men-screening lebih selektif dan rasional mana yang harus dipikirkan dan mana yang tidak.

Berkaitan dengan pengalaman saya ini memang saya harus segera mengurungkan “keinginan” berpikir bagaimana jika. Maka saya memilihi menghadapi tantangan belajar hal baru ini. Saya memilih menghadapi maju presentasi meskipun saya belum maksimal dengan rentang waktu yang ditentukan. Saya memutuskan menghadapi meskipun jika nanti dikritik, mendapat pertanyaan yang susah untuk saya jawab. Saya memilih menghadapi karena bagaimana saya bisa belajar dan improve skill kalau saya cuma bisa mengerjakan pekerjaan yang cuma bisa saya kerjakan. Bukan belajar namanya kalau saya hanya bisa mengerjakan yang mampu dikerjakan.

Belajar adalah ketika kita mengerjakan sesuatu yang tidak kita bisa bahkan kita harus mengalami salah/ jatuh dulu dan akhirnya kita menjadi bisa.

Karena ketika kita belajar, saat itulah kita sedang bertumbuh

 

 

Facebook comments