Berbenah : Review Buku “The Life-Changing Magic of Tidying Up”

(gambar diambil dari www.theatlantic.com)

Berbenah sepertinya menjadi hal yang belum bisa saya kerjakan dengan baik. Meskipun saya suka dengan hal yang rapi tetapi saya belum menemukan metode berbenah yang baik. Setiap kali saya berbenah lemari pakaian, meja kosmetik atau rak buku biasanya belum sampai satu bulan kemudian sudah berantakan lagi.

Ternyata berbenah yang baik itu juga ada metodenya. Menarik ketika saya membaca review sebuah buku oleh salah satu penulis tentang bagaimana cara berbenah, diulas berbenah itu tidak sekedar teknis tetapi juga pola berbenah yang bisa mengubah pola hidup ataupu berpikir. Buat saya ini menarik sehingga saya memutuskan untuk memiliki buku ini, The Life-ChangingMagic of Tidying Up.

(gambar diambil dari http://www.uptodateinteriors.com)

Menurut Marie Kondo, penulis buku The Life-Changing Magic of Tidying Up, kalau selama ini kita memahami berbenah itu dilakukan sedikit-sedikit dan dilakukan setiap hari artinya kita belum bisa mempertahankan kerapian. Berbenah itu sendiri sebenarnya ada dua, beres-beres harian dan beres-beres khusus. Beres-beres harian adalah kegiatan menggunakan dan mengembalikan sesuatu pada tempatnya dan ini akan terus menjadi bagian dari kehidupan kita selama kita masih menggunakan pakaian, buku, alat tulis dan alat lainnya. Beres-beres khusus yaitu merapikan rumah hingga tuntas dan rapi. Nah tujuan Marie Kondo adalah menawarkan metode beres-beres khusus ini.

Yang pertama, ubahlah pola pikir.

Jika selama ini kita selalu susah mempertahankan kerapian dan akhirnya kembali kepada keadaan yang berantakan, apa sebenarnya yang menjadi akar penyebab? Akar penyebabnya adalah hasil usaha kita selama berbenah tidak serta merta kelihatan atau memberikan efek. Supaya bisa mempertahankan kerapian, penting bahwa hasil kerja keras dalam berbenah itu langsung kelihatan. Artinya dengan mencurahkan upaya berbenah sekaligus dan tuntas dalam waktu singkat (bukan sedikit-sedikit) hasilnya pasti langsung kelihatan sehingga kita akan terdorong untuk mempertahankan kerapian. Jadikan kesempurnaan sebagai target.

Satu hal yang membuat saya semakin tertarik membaca buku ini adalah ketika membahas kamar yang berantakan. Kenapa? karena saya menyadari tidak selalu kamar saya rapi. Adakalanya ketika banyak pekerjaan kamar itu menjadi berantakan. Konon kamar yang berantakan adalah cermin dari pikiran yang berantakan. Poin yang saya tangkap adalah ruang yang berantakan itu bukan persoalan fisik belaka. Situasi yang acak-acakan yang bisa dilihat dengan mata sejatinya adalah refleks instingtif untuk mengalihkan perhatian dari pokok permasalahan supaya kita tidak perlu menghadapinya. Nah benar juga, kondisi ini sering saya alami ketika kamar saya berantakan, saat itulah juga saya tidak bersemangat bahkan tidak niat menyelesaikan pekerjaan saya.

Jadi begini mudahnya, ketika kita memiliki ruang yang rapi kita tidak punya pilihan selain menekuni batin, adakah persoalan yang selama kita hindari atau hadapi. Dengan kondisi ruang yang rapi, kita bisa segera menghadapi persoalan-persoalan yang benar-benar penting.

Satu hal yang perlu diketahui bahwa berbenah itu adalah sarana bukan tujuan akhir karena tujuan  akhir sejatinya menciptakan gaya hidup yang rapi dan teratur.

Kemudian, bacalah buku “The Life-Changing Magic of Tidying Up” dan kamu akan menemukannya sendiri manfaatnya.

Saya sudah mempraktekannya sendiri, cukup di kamar sendiri (saya masih tinggal di rumah orang tua). Sangat besar dampaknya ternyata bisa mempraktekan berbenah kamar sendiri. 

Saya mulai dari berbenah lemari pakaian. Sebelumnya saya merasa pakaian di lemari saya cukup banyak tetapi setiap kali memilih baju dapat dipastikan cukup membuang waktu karena saya bingung memilih baju apa dan akhirnya baju itu-itu saja yang saya pakai. Padahal kalo dipikir-pikir baju yang belom dipakai dan masih bagus ada. Setelah membaca buku ini saya menyadari saya sangat tidak rapi meng-organize lemari dan faktanya memang banyak baju yang terselip hingga tak kelihatan, terabaikan dipojokan tanpa saya rawat dengan baik. 

Baiklah, mulai saat itu saya bertekad mulai berbenah dari lemari pakaian: meyortir baju antara yang "perlu dibuang" dan biasa dipakai, melipat dan mengelompokkan baju misal kaos dengan kaos, kemeja dengan kemeja, dress, kaos kaki. Pokoknya sesuai yang disarankan Marie Kondo dalam bukunya. Mengurutkan dari warna gelap hingga terang sesuai urutan gradasi warna begitu seterusnya. Dan ajaibnya uji coba ini berhasil membuat saya lebih mudah memilih baju yang hendak saya pakai tanpa saya harus bingung "saya mau pakai baju apa". Sampai sekarang berbenah pakaian ini masih saya gunakan karena sangat membantu saya memangkas waktu yang habis hanya untuk memilih baju.

 

Karena saya menikmati cara ala Marie Kondo ini, saya langsung praktekan berbenah ke keseluruhan kamar. Manfaatnya terasa sekali, saya bisa lebih fokus mengerjakan sesuatu tanpa pikiran dan mood saya hilang karena acakan-acakan atau tidak rapinya kamar saya. Benar apa yang dikatakan Marie Kondo "Situasi yang acak-acakan yang bisa dilihat dengan mata sejatinya adalah refleks instingtif untuk mengalihkan perhatian dari pokok permasalahan supaya kita tidak perlu menghadapinya" dan itu mulai tidak saya rasakan. Berbenah mempengaruh setiap aspek kehidupan, pikiran, rasa dan kebiasaan saya.. Meski saya baru 4 bulan mempraktekannya, saya rasa sangat berdampak sekali buat hidup saya.

Buat saya yang terpenting adalah niat dan tekad untuk berbenah mulai dari lingkup terkecilmu.

 

 

Selamat membaca dan selemat mempraktekan :)

 

Untuk tutorialnya kamu bisa check link ini ya

Marie Kondo, Folding Tutorial : https://youtu.be/fE5BDe0vFA8

https://www.instagram.com/mariekondo/

Facebook comments