Be Content with What You Have

 

Beberapa hari-hari ini saya sedang belajar tentang managerial keuangan. Satu hal prinsip berharga yang saya dapatkan adalah “be content with what you have”. Saya sedang belajar memaknai, merenungkan dan menghidupibe content with what you haveitu

Apa arti content? Content dinyatakan sebagai kata sifat yang punya arti : in a state of peaceful happiness atau satify.

Kalau saya definisikan content artinya puas atau senang, “Be content with what you have” adalah sebuah kata kerja yang didefinisikan : berpuaslah atau senanglah sebagaimana adanya yang saya punyai.

Saya mencoba merenungkan kata demi kata : “be content with what you havesetiap hari.

Berkaitan dengan “be content with what you have”, beberapa bulan ini saya belajar memanejemen keuangan. Alasannya cuma satu, saya ingin belajar mem-postkan atau mengalokasikan uang dengan tepat dan sesuai skala prioritas dan tentunya belajar menabung. Rasanya telat juga ya baru belajar manage duit sekarang, tapi tak apalah tidak ada kata terlambat untuk berubah ke arah baik hehehe (sambil memotivasi diri sendiri). Rasa menyesal sedikit terobati dan semangat belajar mengatur uang semakin besar karena termotivasi oleh keinginan jadi istri yang bijak dan bisa menjadi contoh yg baik buat anak-anak saya seperti kidung Amsal gambarkan (ngarep hehe).

Saya begitu menikmati dan senang belajarbe content with what you haveberkaitan dengan keuangan. Saya belajar banyak hal. Mulai dari mengendalikan keinginan untuk jajan, untuk belanja (penyakit wanita) maupun sekedar nongkrong dan mencicipi menu di cafe-cafe baru. Tantangan juga buat saya apakah saya kalah atau menang akan godaan (bayangkan sepertinya malaikat di sisi kanan dan setan di sisi kiri saya sedang berdebat sad). Bagaimana ya kalo saya jadi kurang updet gara-gara nahan keinginan, bagaimana ya kalo saya ngga bisa nabung? Begitulah pertanyaan demi pertanyaan muncul. Tidak ada yang salah dengan keinginan saya tersebut, tapi saya sedang mencoba belajar memprioritaskan kebutuhan sesuai kemampuan financial saya. Saya memutuskan tidak mau ambil pusing dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Kenapa? Memang sepertinya adakalanya masa-masa “menjadi hedon” pernah saya alami, tapi kalo itu selalu diikuti mengejar yang seperti itu tidak akan pernah ada habisnya. Saya kembali memutuskan untuk bertekad sewajarnya saja mengejar keinginan “yang tak pernah ada habisnya”, minimal saya tidak terlalu kudet. Tidak terlalu saklek tetapi dinamis pada track yang tepat.

Tuhan menghendaki agar kita secara dinamis mengendalikan aspek keuangan yang merupakan bagian dari hidup dan Jake Barnett dalam bukunya “Wealth & Wisdom” (buku yang saya baca beberapa minggu ini) juga mengatakan bahwa 50% aspek kehidupan kita berhubungan dengan uang. Dinamis artinya merdeka. Merdeka yang seperti apa :

  • Bebas dari kekhawatiran dan perhatian yang terus-menerus tentang kekayaan
  • Bebas dari jerat oleh hal-hal materi
  • Bebas untuk menggunakan uang atau harta untuk maksud yang kekal
  • Bebas untuk menikmati cara Tuhan memelihara tanpa diperbudak oleh materialisme

Dunia ini begitu crowded dengan banyak pandangan dan sistem nilai dan tidak menutup kemungkinan pandangan pribadi saya banyak dipengaruhi oleh nilai dunia itu. Membaca buku “Wealth & Wisdom” sangat membantu saya kembali mengoreksi diri dan merenungkan arti bahagia itu sendiri buat saya. Bahagia, ya bahagia yang bebas dari jerat-jerat kekhawatiran dan perhatian yang terus-menerus tentang kekayaan.

Bicara bahagia secarade facto memang mudah tetapi selalu ada proses pembelajaranya. Pernah mendengar “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” ? Sepertinya Tuhan lebih tertarik akan apa yang terjadi dengan diri kita daripada apa yang kita lakukan. Jadinya sepertinya Tuhan lebih tertarik dengan bagaimana dampak proses penggunaan uang pada kita daripada apa yang kita lakukan dengan uang.

Apakah menjadi “be content with what you have” malah membuat diri jatuh dalam keadaan stagnan dan tidak berkembang ke depan? Semua tergantung masing-masing kita yang memaknai. Kalo saya pribadi berkeyakinan bahwa Tuhan itu bukan Tuhan yang kuno tetapi Tuhan itu Tuhan yang modern, yang memikirkan dan mendorong dengan berbagai cara supaya saya dewasa, bertumbuh dan mengalami kemajuan. Hendaknya “be content with what you have” dan pertumbuhan/kemajuan selalu berjalan berdampingan dan selaras.

Facebook comments