Art of Orangutan : Menolak Punah

Mengkampanyekan tentang nasib orangutan tidak selamanya kita harus berteriak ke jalan, karya-karya seni mampu menjadi salah satu jalan.

Center for Orangutan Protection (COP) bekerjasama dengan komunitas Gigi Nyala (komunitas kesenian muda) menggelar kampanye nasib orangutan yang dibungkus dalam bentuk pameran seni rupa. Pameran berlangsung dari tanggal 26 hingga 29 November 2016 di Jogja Nasional Museum ini bertajuk “Menolak Punah”. Karya-karya seni ini mengajak dan mengedukasi kita untuk lebih mencintai dan peduli dengan nasib orangutan Indonesia.

Alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit dan pembakaran hutan mengancam habitat orangutan dan memaksa orangutan mencari habitat baru masuk ke perkebunan dan pemukiman warga. Namun sayang, manusia lebih memilih berkonflik dengan orangutan karena mengganggap mereka sebagai ancaman. Keberadaan anak orangutan pun diperjualbelikan secara ilegal keluar Indonesia sebagai satwa liar yang unik dan lucu.

Menikmati karya seni ini seolah mengajak saya masuk dimensi kehidupan orangutan di Indonesia. Karya-karya seni ini berbicara secara emosional, seolah orangutan-orangutan menyuarakan terancamnya kehidupan mereka.

Salah satu karya seni yang menarik dan berkesan buat saya adalah Kelas Pagi Ini”. Berkesan karena karya ini mampu mengilustrasikan dan menyampaikan dari hati ke hati betapa menyedihkan ketika anak cucu kita tidak bisa melihat langsung seperti apa orangutan karena mereka sekarang terancam punah. Ketika sekarang saya bisa menikmati dan secara langsung melihat keanekaragaman satwa liar kita tetapi tidak begitu dengan anak-anak kita. Berikut saya salin dialog karya Kelas Pagi Ini” karya Annisa Mega dan Eddo Pradana :



Pak Guru          : Anak-anak, apakah kalian tahu hewan orangutan?

Murid                 : Tidak tahu, Pak. Hewan apa itu?

Pak Guru       : Orangutan (Nama lainnya adalah Mawas) adalah sejenis kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan atau coklat, yang hidup di hutan tropika Indondesia dan Malaysia. Khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatera.

Murid                : Anu, hutan tropis itu apa, Pak?

Pak Guru         : Oh..iya. Kalian belum pernah lihat hutan tropis ya? Seperti ini kelihatannya. Hutan tropis sangat cocok bagi keberlangsungan hidup orangutan, karena di sana, mereka bebas bergelanjtungan

Murid                : Wowww...

Pak Guru          : Ini lho persebaran orangutan di Pulau Sumatera dan Kalimantan

Murid                : Ooooh..

Pak Guru         : Di alam bebas orangutan memakan berbagai macam buah-buahan dan kadang pula makan biji-bijian dan beberapa serangga kecil. Orangutan tidak ditemukan memakan ikan dan daging.

Murid                : Ooooh...

Pak Guru       : Orangutan sangat ramah dengan lingkungan dan cepat menyesuaikan diri untuk mereka yang terbiasa hidup di alam bebas. Tapi sangat berbeda jauh dengan orangutan yang ditangkap oleh pemburu dan dipelihara karena cenderung manja dan tidak bisa bertahan hidup di alam bebas dikarenakan orangutan tersebut terbiasa dimanja oleh pemiliknya. Sifatnya pun nyaris sama dengan manusia. Mereka bisa merasakan sedih, senang, stress dan marah, sama halnya dengan manusia.

Tiba-tiba suasana menjadi serius.

Pak Guru          : Tahukah kalian kenapa kalian sudah tidak bisa melihat orangutan? Karena nenek moyang kita dulu sangat serakah, habitat orangutan disulap menjadi ladang, sehingga orangutan kehilangan tempat mencari makan dan merusak ladang warga. Warga menganggap orangutan sebagai hama lantas memburu dan membunuhnya. Itulah salah satu satwa Indonesia yang tidak bisa kita lihat saat ini karena keberadaannya telah punah.

Sekian dan terimakasih.


 

 

Blog_entry: 

Facebook comments